Thursday, June 25, 2020
Aku Menunggumu
Beberapa waktu ini saya membalik-balik mimpi dengan sederhana dan menyaksikan malam redam sendiri di dalam kamar. Setiap saya menoleh ke jendela kamu selalu menjelma diantara nafas dan kegelapan.
Pada malam saya sering bercerita, tentang suaramu yang kadang serak. Tentang nama nama yang kamu tulis di beranda.
Meski kau masih sibuk dengan mirid dan buku bacaan, saya akan tetap menunggumu di terminal. Di mana semua orang akan datang dan pergi dengan tas ransel-nya.
By: w-fi
Puisi untuk tunanganku
Tuesday, June 23, 2020
Kumpulan kata-kata bijak Pramodeya Ananta Toer
Namun kali saya hanya merangkum kata kata bijak beliau yang ada dalam kumpulan Roman-nya yang berjudul Bukan Pasar Malam.
Bung dan sis mari kita:
1. Sekarang kepalaku membayangkan kuburan, tempat manusia yang terakhir. Tapi kadang-kadang manusia tak mendapat tempat dalam kandungan bumi. Ya, kadang-kadang. Pelaut, prajurit di zaman perang, sering mereka tak mendapat tempat tinggal terakhir. Dalam kepalaku membayangkan, kalau ayah yang tak mendapatkan tempat itu.
2. Akhirnya manusia ini mati juga, mati Sakit.
3. Kadang-kadang manusia ini tak kuasa melawan kenang-kenangannya sendiri. Dan tersenyum aku oleh keinsyafan itu. Ya, kadang-kadang tak sadar manusia terlampau kuat dan menenggelamkan kesadarannya. Aku tersenyum lagi.
4. Kala itu kemiskinan selalu melayang-layang di angkasa dan menyambari kepalaku.
5. Ya, alangkah indah masa kecil yang lalu. Dan kini aku menembangkan keindahan dalam kenang-kenangan.
6. Mengobrol adalah suatu pekerjaan yang tak membosankan, menyenangkan, dan biasanya panjang-panjang.
7. Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seirang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah manusia, dan orang itu pun mencintai kita. Seperti mendiang kawan kita itu misalnya–mengapa kemudian kita harus bercerai-cerai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.
8. Di daerah kami yang miskin, jarang orang berani membuat sumur. Dan di daerah kami yang kering, sumur adalah pusat perhatian manusia dalam hidupnya di samping beras dan garam. Karena itu, sekalipun pembuatan sumur itu atas ongkos sendiri, akhirnya dia menjadi hak umum. Orang yang membuat sumur adalah orang yang berwakaf di tempat kami. Dan bila orang memiliki sumur di daerah kami, dia akan mendapat penghormatan penduduk: sedikit atau banyak. Dan kalau engkau punya sumur di sini, dan sumur itu kau tutup untuk kepentingan sendiri, engkau akan dijauhi orang dan dicap kedekut.
9. Di dunia ini tak ada sesuatu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali.
10. Danni, Adikku, kini terasa betul oleh kita, pahit sungguh hidup di dunia ini, bila kita selalu ingat pada kejahatan orang lain. Tapi untuk kita sendiri, Adikku, bukankah kita tidak perlu menjahati orang lain?
11. Di dunia ini manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.
12. Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak.
13. Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembahdan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh, ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang apapun yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang engkau hanya boleh menonton barang yang engkau inginkan itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi.
14. Aku mengeluh. Hatiku tersayat. Aku memang perasa. Dan keluargaku pun terdiri dari makhluk-makhluk perasa.
15. Bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan pada yang tak punya. Dan mereka tak merasai ini.
16. Dan dengan langkah berat pergilah aku meninggalkan rumahsakit itu; rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.
17. idak seperti mereka yang memperjuangkan hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga bukan menteri, dan engkau ingin mendapat tambahan listrik tigapuluh atau limapuluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tigaratus rupiah. Ini sungguh tidak praktis. Dan kalau isi istana itu mau berangkat ke A atau ke B, semua sudah sedia, pesawat udaranya, mobilnya, rokoknya, dan uangnya. Dan untuk ke Blora ini, aku harus pergi mengelilingi Jakarta dulu dan mendapatkan hutang. Sungguh tidak praktis kehidupan seperti itu.
Dan kalau engkau jadi presiden, dan ibumu sakit atau ambillah bapakmu atau ambillah salah seorang dari keluargamu yang terdekat, besok atau lusa engkau sudah bisa datang menengok. Dan sekiranya engkau pegawai kecil yang bergaji cukup hanya untuk bernafas saja, minta perlop untuk pergi pun susah. Karena, sep-sep kecil itu merasa benar kalau dia bisa memberi larangan sesuatu pada pegawainya.
18. Orang itu membutuhkan air dalam hidupnya.
19. Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana? Dan kini kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumahsakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku.
Gerimis dan Masa depan
Perlahan gerimis membasahi jalan
Aku melihat kapal kapal sandar di tepi pantai
Mendengkur pada laut yang tenang.
Dibalik keraguan jiwaku meronta!
Takut menapaki masa depan,
Iya mas depan
Dengan gemerlap kerakusan
Yang tertempel pada sepatu pantofel kesombongan dan kekuasaan.
By: wfi
Saturday, June 20, 2020
KuTulis Ini Untukmu
Sunday, June 14, 2020
Malam dan kerinduan
Monday, May 11, 2020
Di mana kau kini?
akhir-akhir ini aku jarang melihatmu
sepi!
kata yg pernah kita rangkai tercerai berai
hilang, tinggal bangkai!
di manakah kau kini?
aku ingin menghabiskan waktu denganmu
birbicara lantang dalam debat panjang revolusi.
menghitung bintang melukis malam
hingga kita terpengkur di ruang kosong
hening, keadaan mulai pening.
di penghujung tahun ini aku ingin menemanimu meski kita tak sependirian.
Tuesday, March 24, 2020
Sinta
Mukamu begitu lusuh malam ini
Wajahmu beku meraut pekat
Dan itu membuat kacau cara berfikirku.
Kita memang tidak sependirian akhir-akhir ini
Namun, bukan berarti aku tak peduli.
Sinta,
Jangan sesali nasib hari ini
Meski itu membuatmu pening.
Bukankah kau pernah berkata padaku:
"Hidup yang tak di perjuangkan, tak dapat di menangkan."
Meski realitas dan kekalahan
Sangat tipis bedanya
Bukan berarti kita harus menyerah.
Sinta,
Di akhir pekan
Aku ingin menghabiskan waktu denganmu
Berbicara tentang;
Filsafat, teologi, demokrasi bahkan covid-19.
Wfi
Saturday, December 7, 2019
Malam di tepi luat
Sebagai seorang petualang
Malam menjadi peristirahatan
Setelah menyusuri lembah kehidupan.
Malam ini
di tepi lautan
Aku merebahkan diri
Menghitung jumlah bintang yang berkilauan
Meski aku tak pandai dalam menghitung.
Jakarta Agustus 2017
Monday, October 21, 2019
Malam, Kenyataan dan Kekalahan.
sementara kenyataan
mengajariku tentang kekalahan.
Masa depan kini berubah
menjadi mimpi buruk,
menjadi bayang bayang hitam
yang membuatku harus mengalami
kematian berfikir.
Dari seluruh buku yang mampir
dimeja belajarku, semua
menceritakan tentang kisah para pejuang
yang mati ditangan bangsanya sendiri.
Aku mulai ragu
dengan ilmu pengetahuan dan kecerdasan
dengan segala pengkotak-kotaan
yang akhirnya menjadi perdebatan seru di meja perundigan.
Malam, mengapa kau harus
mengantarkanku pada perenungan
tentang kenyataan dan kekalahan,
mengapa kau tidak mengajariku
tentang bagaimana cara tidur yang nyenyak saja.
Malam, jangan usik waktu tidurku
dengan bunyi layang-layang
apalagi dengan pertanyaan
yang aku tak tahu cara menjawabnya.
Monday, October 7, 2019
Note 1
By. Wfi
Sunday, October 6, 2019
Sisa kenangan
Sementara diatara laju bus kota
Ada sisa kenangan yang mengantarkanku
Pada senyummu yang indah itu.
Ingin sekali aku megetukmu
di akhir tahun ini,
Dan mengajakmu
meniup trompet tahun baru
bersama.
Oooh, alam semesta
jangan biarkan rindu ini mati
di antara jarak dan waktu
yang tak sempat mempertemukan kita kembali.
By. Wfi
Saturday, September 14, 2019
Kereta dan Kopi buatamu
Setelah lama tak bersua
akhirnya alam semesta
mempertemukan kita
meski hanya dengan kata.
Aku takut mengunjungimu
sebab malam itu
kereta dengan cepat melaju
dan arahnyapun tak menentu.
Meski begitu aku pastikan
Akan berlabuh di kediamanmu.
Bisakah kau sedukan kopi
malam ini?
aku mulai lelah
dan ingin rasanya menikmati
pekan terakhir ini
bersenda denganmu.
Kopi tak sempat di sedu
tiba-tiba lonceng kereta
pemberangkatan berbunyi
dan mengajakku
untuk pindah ke tempat lain.
Selamat tinggal meriana
dan terima kasih kopinya.
Saya berharap kau tak terlalu sibuk
bicara revolusi dan kemanusiaan
sebab sinterklas tak akan menghadiri pemakaman kita.
Wednesday, July 31, 2019
Dulu dan Hari Ini.
"Meski kita sering tidak sependirian
Kuharap kita tetap pada kearifan
Pada jejak pengembaraan
Dimana prinsip kemanusian menjadi pijakan."
Begitulah yang kau katakan dulu
Saat kita masih bicara tentang re-vo-lu-si.
"Kita adalah generasi selanjutnya
Yang harus memantapkan diri
Untuk menjaga kebudayaan dan tradisi
Sehingga tak kehilangan tali kekang, nanti."
Pesan itulah yang pernah kau titipkan padaku
Tempo doe-loe.
" Zaman terus berubah
Begitu pula ilmu pengetahuan
Tapi kita tak boleh membiarkan berkas
Sejarah bangsa kita lenyap di telan perubahan."
Ucapmu dulu saat kita
Bicara per-jua-ngan.
**
Setelah beberapa tahun tak bersua
hari ini aku melihatmu
Tampil di televisi
Memakai rompi warna orange
Sembari melambaikan tangan dan tersenyum.
Sontak saya berucap
"Ternyata kau ko-rup-tor."
Begitulah hidup
menghadirkan lelucon lelucon baru yang sering tak terduga
Dulu bak pahlawan sekarang ke-pa-rat
Dulu lantang sekarang me-lem-pem.
Saya bergumam dalam hati
"Kau Ba-ji-ngan."
Pamekasan, 1-08-2019
Tuesday, July 16, 2019
Bahasa Ibu Yang Terpinggirkan
Udara begitu dingin malam ini//sementara alam fikiranku di paksa untuk menghafal ribuan kata, yang itu berbeda dengan bahasa ibu//pikiranku mendidih antara menerima atau tidak kata-kata itu.
Aku merasa kasihan dengan bahasa ibu yang perlahan mulai terpinggirkan//betapa tak bergunanya aku, membiarkan bahasa ibu terkoyak oleh keramaian dan kemajuan zaman.
Bahasa ibu mulai sepi pengunjung//aku merasa menjadi generasi yang membiarkan bahasa ibu masuk dalam liang kubur-nya//"tapi ini merupaka kemajuan zaman. Kau harus memacu dirimu untuk bisa berdiri diantar keramaian." Kegelapan itu berkata padaku sambil menggoda//aku masih diam dan tidak bisa berkata apa-apa.
Sementara diantara kegelapan dan sepi//bahasa ibu mulai menggantungkandiri di pohon mangga yang ada di depan kosan//dengan sendirinya aku berkata "jangan menggantung diri sendirian, karena aku masih siap untuk terus menemanimu//meski aku harus berpisah dengan keramaian dan berteman dengan sepi.
By. Wfi.
Sunday, July 14, 2019
Suramadu Sebelum Subuh
Ia masih meringkuk di atas ranjang, beberapa botol bir yang kosong ia biarkan berantakan di atas meja. Ia teringat dua malam terakhir ketika saling berbicara dengan seorang perempuan di Pelabuhan Kamal, keningnya berkerut seperti tengah mengingat sesuatu, matanya menyipit, terkesan seperti tengah memeras otaknya untuk berpikir kembali. Harold mengamati setiap sudut yang ada di kamarnya untuk mencari inspirasi melukis. Kemudian ia menatap pada lukisan tiruan yang ia buat dari karya John Milton, The Death of James Dean. Harold menyunggingkan sedikit senyum sebelum akhirnya terbangun dari ranjangnya, ia berjalan ke arah easel lalu mulai melukis pada satu-satunya kanvas kosong yang masih tersisa.
”Suramadu pukul tiga pagi, Suramadu sebelum subuh. Bukannya melukis Suramadu dari tempat lain, tapi melukisnya dari tempat itu sendiri.”
Ia terlihat tegang, wajah dan tubuhnya berkeringat, tangannya sedikit gemetar, namun sorotan matanya menggambarkan ambisi, atau mungkin hal lain yang sedang direncanakannya.
Dua jam, ia telah selesai melukis dan melirik ke arah jam dinding. Jarum pendek pada jam itu berada di pertengahan angka satu dan dua, sedangkan jarum panjang berada di angka enam. Harold tersenyum puas lalu mengeluarkan persediaan rokok. Ia mengambil sebatang, mencari korek api di atas meja tetapi tak ada disana. Ia melihat ke bawah bantal, di seluruh ranjang dan di kolong tempat tidur. Koreknya tetap tak ada. Kemudian ia hanya menghisap rokok tanpa menyalakan ujungnya dengan api. Ia duduk pada sebuah kusi kayu, tangannya menggapai secarik kertas dan pulpen, ia mulai menulis, dengan tetap menjejalkan rokok ke dalam mulutnya.
***
”Ketika sedang berada diluar Madura, kau lebih rindu Pelabuhan Kamal atau Jembatan Suramadu?” Pertanyaan klasik sebenarnya, Harold bertanya sambil menuangkan teh ke dalam dua sloki kecil di depannya. Perempuan itu tidak langsung menjawab, ia menoleh ke arah kapal-kapal yang singgah lalu melempar pandangan pada Suramadu.
”Tidak ada, aku rindu pada tempat lahirmu saja, Sumenep.”
Harold tertawa, angannya kembali pada kejadian tiga tahun silam. Ia mengajak gadis itu untuk bertamu ke rumahnya, di Sumenep.
Pada hari pertama menginap, gadis itu diajak berjalan-jalan ke Giliiyang, sebuah pulau kecil yang masih sangat alami. Lautnya begitu biru, dari jauh akan terlihat hijau, merah muda dan bahkan oranye. Sangat indah. Harold sempat khawatir karena saat turun dari perahu, gadis itu menangis karena perutnya terasa mual dan kepalanya pusing. ”Harold, aku benci perahu itu,”katanya sambil menunjuk salah satu perahu pengangkut barang yang tadi mereka tumpangi.
Lalu di hari kedua, mereka menghabiskan waktu untuk menghias perahu, menyiapkan sesajen laut dan melihat ketoprak.
”Pasti rindu dengan tiga tahun lalu ya?”
”Apa namanya? Petik laut? Iya, Harold aku mau kesana lagi. Melihat perahu kecil yang dipenuhi sesajen lalu menghanyutkannya ke tengah laut. ”
”Bukan rindu Giliiyang?”
”Eh nyindir aku kan? Rindu juga sebenarnya, tapi mabuk laut.”
”Yasudah jangan kesana lagi kalau begitu.”
”Ke laut belakang rumahmu saja, kapan petik laut lagi?”
”Bulan depan.”
”Aku berkunjung ya.”
Tapi Harold diam, ia tak berani mengatakan jika sekarang ia sudah tak bisa lagi mengajak perempuan itu ke rumahnya. Bukan karena tak suka, dia menyukai gadis itu, namun ia telah memiliki seorang tunangan. Akhirnya malam itu mereka tidak lagi berbicara tentang Sumenep. Lalu Harold memperlihatkan beberapa foto dalam ponselnya pada gadis itu. Semua itu adalah foto lukisan Harold ketika belum menjadi terkenal seperti sekarang. Lukisan-lukisan yang ia buat karena cinta, bukan ambisi untuk memuaskan pelanggan. Perempuan itu tersenyum, memandang ke arah Harold lalu kembali melihat layar ponsel dengan mata berbinar-binar. Ia melihat lukisan seorang nelayan dengan perahu, pengemis-pengemis kecil yang mengerumuni lelaki paruh baya, Suramadu di malam hari, dan seorang perempuan cantik yang tersenyum.
”Cantik sekali. Siapa dia?”
”Dia adikku, cantik ya?”
”Bukankah adikmu laki-laki?”
”Dia memang lelaki. Adikku pemeran ludruk dan selalu menjadi perempuan,” Harold menjelaskan sambil menunjuk baju ludruk yang dikenakan adiknya.
Perempuan itu menutup mulut dengan kedua tangannya, siapapun pasti tak akan menyangka jika perempuan cantik di dalam lukisan yang difoto itu adalah seorang lelaki. Harold merasa sedikit bersalah, ia tak seharusnya melukis adiknya dalam keadaan seperti itu. Apalagi ia tahu bahwa sekarang adiknya lebih nyaman hidup sebagai seorang perempuan dari pada laki-laki, tapi ia tak membicarakannya dengan perempuan itu, ia malu.
”Harold, apa nama aslimu memang Harold?”
Harold kembali tersenyum, ia mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di atas meja. Tangannya mengambil teko teh di hadapannya dan menuangkannya kembali pada dua sloki kecil yang telah kosong di depan mereka.
”Aku sedang membayangkan menuang bir, bukan teh.”
”Aku serius, namamu bukan Harold pasti?”
”Iya itu namaku, memangnya kenapa? Aku tidak pantas dengan nama itu karena aku bukan bule?”
”Harold, tidak seperti itu. Sungguh.” Gadis itu manja, sangat manja dan Harold menyukainya.
”Oh iya, aku bisa melukis Suramadu dari pelabuhan Kamal, tapi aku tidak bisa melukis Pelabuhan Kamal dari Suramadu.” Mereka berdua tertawa, lalu meminum teh pada sloki masing-masing.
”Hanya saja, seseorang memesan lukisan Suramadu yang tak biasa. Aku bingung harus melukis apa.”
”Jika membicarakan Suramadu sebagai objek sebuah gambar, orang-orang akan tertarik melukisnya dari jauh. Kalau mencari sisi yang tidak biasa, menurutku kau hanya perlu melukis Suramadu tidak dari tempat lain, tapi dari Suramadu itu sendiri.”
Harold memandang gadis itu, ia perhatikan bibir merahnya, mata sayunya dan beberapa helai rambutnya yang tertiup angin malam di pinggir laut. Ia melihat kecantikan gadis itu sebagai candu lalu mengambil rokok dan mulai menyalakannya. Sekali lagi ia melihat Jembatan Suramadu yang semakin malam terlihat semakin cantik, seperti perempuan di depannya.
***
Perempuan itu berhenti di depan rumah Harold. Ia melihat pintu depan rumah Harold sedikit terbuka, tetapi motor vespanya tak ada di garasi. Maka perempuan itu berjalan mendekat ke dalam rumah. Ia membuka pintu itu perlahan-lahan, lalu suaranya mulai memanggil nama Harold berulang-ulang. Tidak ada jawaban. Ia sering berkunjung ke rumah Harold, bahkan telah berkali-kali menyaksikan Harold menyelesaikan lukisan di dalam kamarnya.
”Harold, aku langsung ke kamarmu ya. Kau di dalam kan?”
Ucapnya sambil membuka pintu kamar Harold. Ia tersenyum melihat beberapa kanvas penuh coretan yang berserakan, botol-botol bir dan beberapa bungkus rokok di lantai.
Perempuan itu menuju sebuah foto dengan bingkai kayu di meja dekat ranjang tidur Harold. Matanya berbinar-binar, ia selalu jatuh cinta ketika melihat foto Harold dua tahun yang lalu. ”Harold yang tampan,” ucapnya sambil terus memperhatikan lelaki berambut ikal agak panjang di dalam foto. Kemudian ia menghembuskan nafas,”Entahlah kenapa sekarang Harold lebih suka rambut pendek.” Lalu ia meletakkan foto itu di mejanya kembali, tiba-tiba tatapannya tertuju pada sebuah lukisan yang masih melekat pada easel.
Ia berjalan mendekat, memperhatikan lukisan itu dengan baik. Ia mengingat-ingat latar dari lukisan itu, ada laut, kemudian jalanan beraspal, dan tiang-tiang menjulang ke atas. ”Loh, Suramadu ya?” Tapi matanya berhenti pada gambar seorang lelaki yang tergeletak di tanah dengan lumuran darah dan pisau di sampingnya. Keningnya berkerut. Ia menatap lelaki dalam lukisan itu lebih dekat lagi, lelaki itu sepertinya berambut ikal, ucapnya dalam hati. Di bawah lukisan itu tertulis “Suramadu Sebelum Subuh”, ia mengingat kembali pesan pendek yang ia kira dikirim Harold pagi tadi ketika subuh. Ia membuka ponselnya lagi, ternyata tidak dikirim saat subuh tapi tepat jam tiga pagi. Perempuan itu terduduk lemas di kursi depan easel, kursi yang biasanya ditempati Harold saat melukis. Ia berdiri tiba-tiba ketika merasa ada sesuatu yang didudukinya, sebuah kertas ternyata. Dengan tergesa-gesa ia membukanya,”Lukisan ini untuk pelanggan terakhirku yang meminta Suramadu digambar dengan sudut pandang berbeda, dia mendapatkannya dan aku juga di dalamnya.” Dibawah deretan kalimat itu tertulis nama seseorang dan nomor teleponnya.
By: Ike.
Thursday, June 27, 2019
Sepi
Tuhan!
Sementara ini, biarkan saya sendiri
Mendengkur pada malam
Lantaran sepilah yang membuatku memiliki mimpi.
Keramaian telah kehilangan arloji
tentang kemana akan berlabuh.
sajak tak memiliki tempat akhir-akhir ini
sebab mimbar mimbar besar di penuhi tokoh agama dan politisi yang sibuk berdeklamasi.
Tuhan!
Saya tak mau menggerutu tentang hakim yang jalanya miring. Karena kekalahan dan kenyataan beda tipis.
Biarlah saya dikoyak oleh sepi
lalu tertindih dengan diplomasi diplomasi,
yang aku sendiri tak tahu dari mana asal usulnya.
Tuhan!
Besar kemungkinan aku akan sering menemuimu
lewat sajadah panjang yang di ajarkan oleh ibu kepadaku.
Lalu menceritakan tentang tafsir para politisi dan agamawan yang akhir akhir ini sudah seperti kerapan sapi.
Kediri, 2019
Thursday, February 28, 2019
Catatan Malam Ini
-catatan malam ini-
Melainkan sejarah
Yang hadir dengan penuh cipratan darah.
Dengan propaganda kebenaran
Yang tak tentu ujung pangkalnya".
Kuharap besok ada labirin baru yang bisa ketemukan
Dan membawaku pada huruf yang lebih indah lagi.
Saya kira itu tidak mungkin
Sebab kita hanya melanjutkan drama dari kisah ken arok yang membunuh tunggul amentung dengan menggunakan tangan kebo marcoet.
Dengan menyandarkan propaganda-nya pada kepentingan rakyat
Padahal rakyat hanya di jadikan instrumemtal untuk mengukuhkan status mereka sebagai pahlawan.
meski hanya kejadian yang berlangsung tempo dulu.
karena terlalu banyak melihat kejadian di mana agama mulai terasing dari pemeluknya. Agama sudah tidak di sikapi rendah hati oleh pelakunya, melainkan di jadikan alat untuk tidak dewasa dan pemarah.
Agama di jadikan jimat-jimat beku yang di simpan, di elus-elus tetapi tidak di perkenalkan kepada hakikat realitas dan tidak di terjemahkan kedalam syariat sosial sebagaimana agama itu sendiri menuntunya.
Ternyata saya mulai ngelantur.
Sudah aku selesaikan saja catatan malam ini.
Wednesday, February 27, 2019
TERBANGLAH SAYANG
-Terbanglah Sayang-
Terbanglah sayang
Jadilah manusia bebas.
Di sini terlalu banyak sihir
Dan kapan saja bisa menyulapmu jadi kapas.
Biarkan aku di sini
Menyatulan pekat dengan nafas.
Dan aku tak peduli
Kalau suatu saat nanti sihir ini membuatku terhempas.
Terbanglah sayang
Jangan kau gantung kepalamu di sini.
Terbanglah sayang
Jangan kau habiskan suaramu di sini.
Di jauh num sana
Ada banyak warna yang belum kau kenal.
Ada banyak udara
Yang masih belum kau hirup.
Di sini biarlah aku sendiri
Menemani sepi
Menghabiskan waktu
Dengan ringkik kebisuan ini.
Terbanglah sayang
Terbang
Terbanglah.
Monday, December 10, 2018
-generasi milenial dan dis-integrasi-
-generasi milenial dan dis-integrasi-
"Tidak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya kalau tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau tak mengenal sejarahnya, apalagi kalau tidak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya." -pramoedya-
Saya berfikir Generasi milenial merupakan generasi yang sudah melupakan kertas-kertas sejarah. maaf jika persepsi saya ini salah. Namun izinkan saya menguraikan persepsi saya: Pertama Hari ini kita terjebak pada perebutan kekuasaan yang orientasinya hanya kepentingan kelompok dan bahkan individu. "politik dalam bentuk yang paling buruk adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri." ( politics at its worst is aselfish grab for power, glory and riches). -peter merkl- terbukti dengan banyaknya kader partai politik dan pejabat pemerintah yang terjerat kasus korupsi.
Kedua kita merasa ada dalam satu balutan NKRI namun hati selalu tepecah belah. Akhir-akhir ini kita sering mengatakan saya indonesia saya Pancasila. Tapi selepas mengucapkan kita menyimpan kebencian bahkan hingga melontarkan bahasa kafir kepada sanak saudara kita. Tidak hanya itu kita sering menebar fitnah dan berita bohong yang itu membuat kondisi politik kita kacau. Contoh kasus ratna sarumpaet dengan informasi/berita bohongnya. dan ditolaknya Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia ustaz Tengku Zulkarnain oleh massa Dewan Adat Dayak (DAD) saat mendarat di Bandara Susilo, Sintang, Kalimantan Barat (12/1/2017) hanya karena beliau (tengku zulkarnain) sebut suku dayak kafir. Dan yang baru-baru ini adalah Penembakan yang menewaskan 16 orang oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) terjadi di Kabupaten Nduga, pada 1 Desember meski baru terungkap selasa (4/12). Dan sebelum tragedi itu ada sekelompok mahasiswa papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) melakukan demontrasi di Surabaya dengan salah satu tuntutanya yaitu papua merdeka. Dan masih banyak lagi kejadian yang membuat kita mengalami Dis-integrasi.
Dan ketiga adalah masalah etika. kita seringkali melupakan etika/adab karena hanya merasa paling pintar dan benar. Bukankah adab itu lebih dulu daripada ilmu yang kalau ungkapan pesantrenya "al-akhlaqu qoblal ilmi." saya tidak habis fikir akhir-akhir ini banyak yang menganggap dirinya pengikut Nabi Muhammad dan merasa paling islami namun cara berdakwah selalu mengucapkan bahasa yang kasar dan penuh dengan kebencian. Bukankah Rosulullah SAW di utus di muka bumi ini untuk memperbaiki ahlaq. "Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq." ( HR Bukhari).
*
Saya mengutip dari perkataan surya paloh "Saya juga merintis perjuangan politik. Karena sejak remaja saya pengagum Bung Karno, saya ingin mewujudkan pemikiran-pemikiran dan cita-cita Bung Karno terhadap bangsa ini. Tetapi ternyata saya harus melewati jurang yang terjal dan dalam, bukan sesuatu yang mulus. Saya jatuh bangun, lalu ditekan, disingkirkan." memang perjalanan kita sebagai bangsa dan negara masih belum usai namun bukan tidak mungkin kita akan mengalami disintegrasi jikalau kita terjebak pada politik yang nir-gagasan dan bahkan mengarah pada banalitas dan praktik-praktik culas.
Sudah saatnya kita membuka kembali lembar sejarah kita dan mempelajari berkas-berkas-nya. Contoh pada saat zaman pergerakan nasional. saat itu politik menjelma jadi panggung gagasan. "Politik menjadi ruang sejarah yang menjadi lahan subur gagasan-gagasan besar." -willy aditya-. Misalnya perdebatan antara tjipto mangoenkoesoemo dengan soetatmo soerjokoesoemo tentang bangunan nasionalisme bagi bangsa ini kedepan.
Perdebatan tersebut dipaparkan oleh budiawan (1994) yang dikutip airlangga pribadi dalam patriotisne tjipto mangoenkoesoemo, soetatmo mengajukan argumen tentang pentingnya membangun nasionalisme berlandaskan identitas jawa, karena nasionalisme jawa memiliki landasan kebudayaan, bahasa dan sejarah yang sama sebagai dari bagian dari suku jawa. Sementara nasionalisme hindia tidak memiliki dasar kultural maupun bahasa yang sama dan tidak lebih dari produk kolonialisme belanda.
Berbeda dengan soetatmoe dalam pandangan tjipto mereka yang mengusung paham nasionalisme jawa tidak menyadari gerak perkembangan sejarah dunia. Kaum bumi putera haruslah belajar pada kemajuan eropa untuk mengejar ketertinggalan dan menjadi bangsa yang mandiri. Meskipun hindia belanda sendiri terdiri atas beragam suku, golongan, kebudayaan, bahasa, namun pencarian atas pijakan persatuan sebagai bangsa tidak bisa lagi dikembalikan dalam bayangan masa lalu tentang kemegahan jawa yang telah menjadi himpunan wilayah kolonial belanda. Bagi tjipto tugas yang di pikul oleh para pemimpin sekarang adalah bekerja untuk nasionalisme Hindia. Silang gagasan kembalibterjadi pada kesempatan kedua di kongres pengembangan kebudayaan jawa, 5-7 juli 1918. Tjipto melakukan kritik terhadap kebudayaan jawa dengan memperlihatkan sistem kasta serta asas pergantian bupati yang bersifat turun temurun, yang justribmenjadi penyangga sistem kolonialisme belanda.
Ironis, jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini. Hari ini kita sering menyaksikan perdebatan yang itu terkait soal-soal pragmatis dan pembelaan atas kepentinag privat masing-masing. Seharusnya hari ini kita mampu menggali modalitas kebudayaan guna meraih kemajuan teknologi atau guna menghadapi globalisasi.
Tuesday, November 20, 2018
-cemas-
-cemas-
Siti,
Malam inI saya begitu cemas. Melihat kebebasan yang diumbar seperti nafsu. Baju yang penuh cipratan darah tetap saja dipakai. Kemerdekaan mulai kehilangan makna. Dan kata-kata mulai tak memiliki arti.
Demokrasi kini mengalami kesepian dan pancasila macet di tengah kobaran kebencian dan dendam. Kemana kaki ini akan saya ayunkan, siti? Jika gang-gang sempit dan jalan-jalan protokol penuh dengan panflet yang aku tak tahu dari mana asal usulnya.
Siti,
Izinkan aku berlabuh di rumahmu. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Bercerita tentang kisah masa lampau yang ber-genre melankolis. Waktu begitu cepat siti, dan aku ingin menjadi tua lalu mati di pelukanmu.
Meski akhir-akhir ini aku sering mencemaskanmu, lalu bertanya-tanya apakah saya bisa menjamahmu dengan perasaan? Sementara aku tak mau membawamu pada kehidupan yang keras dan kejam ini. Siti aku merindukan!
Pamekasan, 21-11-2018
Menghadapi kenyataan tanpa masa depan
Kemana kaki akan diayunkan, Sementara malam tak lagi menjadi tempat persinggahan. Kemana kaki akan diarahkan, Saat kenyataan bersembunyi pad...
-
tuhan, izinkan aku mengembara di atas sajadah panjangmu bercumbu dan mendekam dalam ayat-ayatmu berdiri tegak seperti alifmu. tuhan, bi...
-
kala malam tiba kalilawar langsat mencari makan burung burung kembali keperaduan akupun tertunduk kaku di antara persimpangan. lalu berb...
-
diantara jalan setapak padi-padi rusak burung-burung manangis terisak-isak sengketa tanah semakin merebak di antara jalan setapak p...