Sunday, July 14, 2019

Suramadu Sebelum Subuh

Harold telah menghabiskan beberapa batang rokoknya. Ia kini meringkuk di atas ranjang dengan tatapan kosong. Kuas dan kanvas ia biarkan tergeletak di atas lantai, hampir seluruh kanvas dipenuhi dengan coretan. Ia telah melukis berkali-kali tapi selalu berakhir dengan ketidakpuasan. Lima hari yang lalu, seseorang memesan  lukisan pada Harold. Ia ingin sebuah lukisan tidak biasa yang objek utamanya adalah jembatan Suramadu. ”Aku akan membayar dengan sembilan digit angka nol dibelakang angka 1,” kata pelanggannya. Tapi bukan karena uang itu Harold merasa harus menghasilkan lukisan yang tak biasa, melainkan reputasinya sebagai seorang pelukis menuntutnya untuk tidak akan mengecewakan pelanggan. Ia sadar ia memberontak, sebelum ia terkenal dan memiliki pekerjaan melukis untuk orang lain, ia hanya melukis untuk dirinya sendiri, karena memang kecintaannya pada seni lukis. Tapi sekarang semua berbeda, Harold telah terperangkap pada sebuah dunia dimana tugasnya adalah mengikuti keinginan pelanggan.

Ia masih meringkuk di atas ranjang, beberapa botol bir yang kosong ia biarkan berantakan di atas meja. Ia teringat dua malam terakhir ketika saling berbicara dengan seorang perempuan di Pelabuhan Kamal, keningnya berkerut seperti tengah mengingat sesuatu, matanya menyipit, terkesan seperti tengah memeras otaknya untuk berpikir kembali. Harold mengamati setiap sudut yang ada di kamarnya untuk mencari inspirasi melukis. Kemudian ia  menatap pada lukisan tiruan yang ia buat dari karya John Milton, The Death of James Dean. Harold menyunggingkan sedikit senyum sebelum akhirnya terbangun dari ranjangnya, ia berjalan ke arah easel lalu mulai melukis pada satu-satunya kanvas kosong yang masih tersisa.

”Suramadu pukul tiga pagi, Suramadu sebelum subuh. Bukannya melukis Suramadu dari tempat lain, tapi melukisnya dari tempat itu sendiri.”
Ia terlihat tegang, wajah dan tubuhnya berkeringat, tangannya sedikit gemetar, namun sorotan matanya menggambarkan ambisi, atau mungkin hal lain yang sedang direncanakannya.
Dua jam, ia telah selesai melukis dan melirik ke arah jam dinding. Jarum pendek pada jam itu berada di pertengahan angka satu dan dua, sedangkan jarum panjang berada di angka enam. Harold tersenyum puas lalu mengeluarkan persediaan rokok. Ia mengambil sebatang, mencari korek api di atas meja tetapi tak ada disana. Ia melihat ke bawah bantal, di seluruh ranjang dan di kolong tempat tidur. Koreknya tetap tak ada. Kemudian ia hanya menghisap rokok tanpa menyalakan ujungnya dengan api. Ia duduk pada sebuah kusi kayu, tangannya menggapai secarik kertas dan pulpen, ia mulai menulis, dengan tetap menjejalkan rokok ke dalam mulutnya.
***
”Ketika sedang berada diluar Madura, kau lebih rindu Pelabuhan Kamal atau Jembatan Suramadu?” Pertanyaan klasik sebenarnya, Harold bertanya sambil menuangkan teh ke dalam dua sloki kecil di depannya. Perempuan itu tidak langsung menjawab, ia menoleh ke arah kapal-kapal yang singgah lalu melempar pandangan pada Suramadu.
”Tidak ada, aku rindu pada tempat lahirmu saja, Sumenep.”
Harold tertawa, angannya kembali pada kejadian tiga tahun silam. Ia mengajak gadis itu untuk bertamu ke rumahnya, di Sumenep.
Pada hari pertama menginap, gadis itu diajak berjalan-jalan ke Giliiyang, sebuah pulau kecil yang masih sangat alami. Lautnya begitu biru, dari jauh akan terlihat hijau, merah muda dan bahkan oranye. Sangat indah. Harold sempat khawatir karena saat turun dari perahu, gadis itu menangis karena perutnya terasa mual dan kepalanya pusing. ”Harold, aku benci perahu itu,”katanya sambil menunjuk salah satu perahu pengangkut barang yang tadi mereka tumpangi.
Lalu di hari kedua, mereka menghabiskan waktu untuk menghias perahu, menyiapkan sesajen laut dan melihat ketoprak.
”Pasti rindu dengan tiga tahun lalu ya?”
”Apa namanya? Petik laut? Iya, Harold aku mau kesana lagi. Melihat perahu kecil yang dipenuhi sesajen lalu menghanyutkannya ke tengah laut. ”
”Bukan rindu Giliiyang?”
”Eh nyindir aku kan? Rindu juga sebenarnya, tapi mabuk laut.”
”Yasudah jangan kesana lagi kalau begitu.”
”Ke laut belakang rumahmu saja, kapan petik laut lagi?”
”Bulan depan.”
”Aku berkunjung ya.”

Tapi Harold diam, ia tak berani mengatakan jika sekarang ia sudah tak bisa lagi mengajak perempuan itu ke rumahnya. Bukan karena tak suka, dia menyukai gadis itu, namun ia telah memiliki seorang tunangan. Akhirnya malam itu mereka tidak lagi berbicara tentang Sumenep. Lalu Harold memperlihatkan beberapa foto dalam ponselnya pada gadis itu. Semua itu adalah foto lukisan Harold ketika belum menjadi terkenal seperti sekarang. Lukisan-lukisan yang ia buat karena cinta, bukan ambisi untuk memuaskan pelanggan. Perempuan itu tersenyum, memandang ke arah Harold lalu kembali melihat layar ponsel dengan mata berbinar-binar. Ia melihat lukisan seorang nelayan dengan perahu, pengemis-pengemis kecil yang mengerumuni lelaki paruh baya, Suramadu di malam hari, dan seorang perempuan cantik yang tersenyum.
”Cantik sekali. Siapa dia?”
”Dia adikku, cantik ya?”
”Bukankah adikmu laki-laki?”
”Dia memang lelaki. Adikku pemeran ludruk dan selalu menjadi perempuan,” Harold menjelaskan sambil menunjuk baju ludruk yang dikenakan adiknya.

Perempuan itu menutup mulut dengan kedua tangannya, siapapun pasti tak akan menyangka jika perempuan cantik di dalam lukisan yang difoto itu adalah seorang lelaki. Harold merasa sedikit bersalah, ia tak seharusnya melukis adiknya dalam keadaan seperti itu. Apalagi ia tahu bahwa sekarang adiknya lebih nyaman hidup sebagai seorang perempuan dari pada laki-laki, tapi ia tak membicarakannya dengan perempuan itu, ia malu.
”Harold, apa nama aslimu memang Harold?”
Harold kembali tersenyum, ia mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di atas meja. Tangannya mengambil teko teh di hadapannya dan menuangkannya kembali pada dua sloki kecil yang telah kosong di depan mereka.
”Aku sedang membayangkan menuang bir, bukan teh.”
”Aku serius, namamu bukan Harold pasti?”
”Iya itu namaku, memangnya kenapa? Aku tidak pantas dengan nama itu karena aku bukan bule?”
”Harold, tidak seperti itu. Sungguh.” Gadis itu manja, sangat manja dan Harold menyukainya.
”Oh iya, aku bisa melukis Suramadu dari pelabuhan Kamal, tapi aku tidak bisa melukis Pelabuhan Kamal dari Suramadu.” Mereka berdua tertawa, lalu meminum teh pada sloki masing-masing.
”Hanya saja, seseorang memesan lukisan Suramadu yang tak biasa. Aku bingung harus melukis apa.”
”Jika membicarakan Suramadu sebagai objek sebuah gambar, orang-orang akan tertarik melukisnya dari jauh. Kalau mencari sisi yang tidak biasa, menurutku kau hanya perlu melukis Suramadu tidak dari tempat lain, tapi dari Suramadu itu sendiri.”
Harold memandang gadis itu, ia perhatikan bibir merahnya, mata sayunya dan beberapa helai rambutnya yang tertiup angin malam di pinggir laut. Ia melihat kecantikan gadis itu sebagai candu lalu mengambil rokok dan mulai menyalakannya. Sekali lagi ia melihat Jembatan Suramadu yang semakin malam terlihat semakin cantik, seperti perempuan di depannya.
***
Perempuan itu berhenti di depan rumah Harold. Ia melihat pintu depan rumah Harold sedikit terbuka, tetapi motor vespanya tak ada di garasi. Maka perempuan itu berjalan mendekat ke dalam rumah. Ia membuka pintu itu perlahan-lahan, lalu suaranya mulai memanggil nama Harold berulang-ulang. Tidak ada jawaban. Ia sering berkunjung ke rumah Harold, bahkan telah berkali-kali menyaksikan Harold menyelesaikan lukisan di dalam kamarnya.
”Harold, aku langsung ke kamarmu ya. Kau di dalam kan?”
Ucapnya sambil membuka pintu kamar Harold. Ia tersenyum melihat beberapa kanvas penuh coretan yang berserakan, botol-botol bir dan beberapa bungkus rokok di lantai.
Perempuan itu menuju sebuah foto dengan bingkai kayu di meja dekat ranjang tidur Harold. Matanya berbinar-binar, ia selalu jatuh cinta ketika melihat foto Harold dua tahun yang lalu. ”Harold yang tampan,” ucapnya sambil terus memperhatikan lelaki berambut ikal agak panjang di dalam foto. Kemudian ia menghembuskan nafas,”Entahlah kenapa sekarang Harold lebih suka rambut pendek.” Lalu ia meletakkan foto itu di mejanya kembali, tiba-tiba tatapannya tertuju pada sebuah lukisan yang masih melekat pada easel.
Ia berjalan mendekat, memperhatikan lukisan itu dengan baik. Ia mengingat-ingat latar dari lukisan itu, ada laut, kemudian jalanan beraspal, dan tiang-tiang menjulang ke atas. ”Loh, Suramadu ya?” Tapi matanya berhenti pada gambar seorang lelaki yang tergeletak di tanah dengan lumuran darah dan pisau di sampingnya. Keningnya berkerut. Ia menatap lelaki dalam lukisan itu lebih dekat lagi, lelaki itu sepertinya berambut ikal, ucapnya dalam hati. Di bawah lukisan itu tertulis “Suramadu Sebelum Subuh”, ia mengingat kembali pesan pendek yang ia kira dikirim Harold pagi tadi ketika subuh. Ia membuka ponselnya lagi, ternyata tidak dikirim saat subuh tapi tepat jam tiga pagi. Perempuan itu terduduk lemas di kursi depan easel, kursi yang biasanya ditempati Harold saat melukis. Ia berdiri tiba-tiba ketika merasa ada sesuatu yang didudukinya, sebuah kertas ternyata. Dengan tergesa-gesa ia membukanya,”Lukisan ini untuk pelanggan terakhirku yang meminta Suramadu digambar dengan sudut pandang berbeda, dia mendapatkannya dan aku juga di dalamnya.” Dibawah deretan kalimat itu tertulis nama seseorang dan nomor teleponnya.

By: Ike.

No comments:

Post a Comment

Menghadapi kenyataan tanpa masa depan

Kemana kaki akan diayunkan, Sementara malam tak lagi menjadi tempat persinggahan. Kemana kaki akan diarahkan, Saat kenyataan bersembunyi pad...