Angin meraba-raba jendela kamarku.
Di jauh nun sana
Aku melihat pintu rumahku
Dan bahasa ibu yang sederhana.
Jam memasuki angaka dua belas malam
Udara mulai dingin
Embun sudah membasahi kaca jendela.
Sungguh,
Tanpa disadari kristal pecah dan membasahi pipi
Dan membawaku membelah malam.
Aku terdampar di jalan panjang
Mengantarkan pada kisah serta kenyataan
Yang sarat dengan keangkuhan
Dan kebohongan.
No comments:
Post a Comment