Monday, June 2, 2014

Tangis

            Suara tangis itu selalu terdengar  dimana – mana, seakan dunia ini sempit dengan berkumandangnya jerit tangis yang ada di sekitar kita. Tiap hari dibelakang rumah saya terdengar suara tangis. Awalnya semua tetangga merasa kasihan dan kaget mendengar tangis yang mereka dengar itu, bahkan para tetangga merasa prihatin. Saya pun merasa iba karena saking kasihan mendengar tangis yang mereka lakukan tiap malam di belakang rumah saya ini. Tapi, karena terlalu sering mendengar tangis sayapun merasa biasa – biasa saja dan seakan tangis tadi hanya jadi music indah sebelum aku memejamkan kedua mataku.
            Minarti namanya yang selalu menangis tiap malam itu, minarti baru dua tahun menikah dengan sugeng. Awalnya mereka hidup dengan baik dan tidak terdengar tangis sedikitpun dari dalam rumahnya. Mereka berdua hidup dengan damai dan tentram. Keluarga sayapun merasa tentram karena tidak merasa terusik dengan tangis yang dilantunkan. Setelah satu tahun kedamain Kedamain itu berubah menjadi menjadi kekacauan, Karena tiap malam pasangan yang baru menikah dua tahun itu bertengkar dan minarti akhirnya menangis.  
            saya dan para tetangga dekatnya merasa dirugikan karena tiap malam mereka berantem, dan tangis minarti yang agak keras itu mengganggu tidur kami semua. Kami yang merasa terusik tidak berani menegurnya, karena hanya baru dua tahun mereka menikah. Jadi kami beranggapan mereka masih wajar dalam membangun suatu rumah tangga.
            Dan pada suatu saat minarti datang kerumah saya, cuma ingin minta air mandi karena sanyo (kran airnya ) rusak. Ibu saya yang merasa ingin tahu mengapa mereka tiap malam berantem masih mengajak minarti ngobrol – ngobrol di ruang tamu rumah saya. Kebetulan saya berada di teras luar memberi makan burung kesukaan ayah saya.
            “ minarti mengapa kamu tiap malam menangis bukankah awalnya kalian berdua baik – baik saja “ ibuku menanyakan pada minarti.
            “ oh, tidak ada apa – apa kok buk kami hanya ada masalah sedikit ” jawab minarti kayak ada yang disembunyikan dalam dirinya.  
            “ Sudah kamu jujur saja pada ibu siapa tahu ibu bisa membantu walau hanya sedikit. “ ibuku bertanya lagi pada minarti seakan ibu belum puas dengan jawaban minarti.
            “ ya saya ada masalah yang sangat rumit dalam keluargaku buk ” minarti jawab dengan ragu – ragu.
            “ Sudah kamu curahkan saja pada ibu dan siapa tahu ibu bisa bantu, kan kamu masih baru dalam berkelurga. Dan saya mengerti kalau didalam keluarga itu tidak mudah untuk mempertahan suatu perkawinan. Ibu dulu pernah mengalami, tapi saya dan suami saya cepat – cepat mencari solusi agar bisa keluar dari dalam permasalahn tadi “ ibu memberi motivasi tapi dan memaksa supaya ibu tahu, apa yang memicu pasangan baru kok bisa berantem tiap malam.
            “ ya buk tapi jangan bilang sama mas sugeng ya,,,! Aku takut mas sugeng marah sama saya bu. Yang memicu kami untuk berantem tiap malam itu adalah ketika mas sugeng di pecat dari pegawai negeri sipil (PNS). Mas sugeng dipecat karena ada surat kaleng yang memberi tahukan bahwasanya mas sugeng dari keturunan partai komunis  Indonesia (PKI), kepala pemerintah daerahpun langsung mengadakan penyelidikan dan akhirnya terbukti benar, saat itu pula mas Sugeng langsung dipecat dari PNSnya. Mas sugeng marah besar pada saya, tiap malam dia selalu berambisi untuk mencari siapa yang mengirimkan surat itu. Dan pada saat itu pula perekonomian saya memburuk. Setiap hari mas sugeng hanya menghabiskan waktu dengan berjudi, kalau malam mas Sugeng pulang dengan keadaan mabuk. Dan marah – marah pada saya. Tapi Alhamdulillah satu bulan akhir – akhir ini keadaannya membaik bu. “
            “ apa salah ketika dulu nenek moyang kita itu pernah meminum air dan berhimpun dari para komunis, apakah komunis dulu punya salah besar yang tidak bisa di maafkan oleh pemerintah? “ minarti balik nanya pada ibu.
            “ Kalau masalah itu ibu juga kurang tahu, tapi yang ibu tahu komunis dulu pernah dihapuskan dari ibu pertiwi ini. “ jawab ibu saya karena sebenarnya ibu saya juga tidak terlalu paham dengan sejarah, maklum ibu saya hanya lulusan sekolah dasar (SD).
            Minartipun pamit pulang karena takut suaminya datang, dan ibu mengizinkan pada minarti untuk mengambil air dirumah saya sampai kran airnya diganti atau diperbaiki. Hari berganti hari malam berganti malam. Tapi minarti tiap malam menangis, tapi tangisanya tidak terlalu keras hanya menangis sudu sedan. Dan hanya yang berdekatan saja saja yang tahu, suatu ketika saat bulan tidak terlalu terang karena awan – awan hitam mengahadanginya. Dan lirih angin yang seakan menusuk ditiap lubang kulitku, membawa aku ahrus memakai jakrt yang agak tebal. Dan saya mendengar suara sepatu koboy lewat ditiap sisi rumahnya minarti, orang orang tadi membawa beragam senjata dan memakai jaket anti peluru dan ternyata orang orang tadi adalah pasukan polisi, yang ingin menangkap Sugeng yang disangka terlibat dalam jaringan teroris. Tak lama rumah minarti dikepung akhirnya sugeng ditangkap jaga dan dibawa ke polres kota untuk diselidiki ( intrigasi).
            Saat itu pula minarti tiap malam menjerit tangis walau tidak terlalu keras suaranya, dunia terasa gelap karena begitu sulitnya untuk bertahan hidup dinegeri ini. Tadak ada yang harus dipercaya karena kepercayaan hanya pada tuhan, karena kepercayaan hanya membawa kita dalam ambang kehancuran.mereka mengaku beragama tapi, disisi lain mereka sudah menghidupkan tuhan – tuhan kecil. Mereka seakan mampu untuk mengadili semua manusia siapa kesurga dan siapa keneraka. itu semua yang dikatan minarti pada ibu saya. Minartipun pindah dari desa ini dan pulang kerumah ayahnya, sedangkan sugeng mendekam didalam penjara.

No comments:

Post a Comment

Menghadapi kenyataan tanpa masa depan

Kemana kaki akan diayunkan, Sementara malam tak lagi menjadi tempat persinggahan. Kemana kaki akan diarahkan, Saat kenyataan bersembunyi pad...