Monday, June 2, 2014

MASISWA LAMA vs MAHASISWA MODERN

kata Mahasiswa sangat sakral. Kata yang punya peran penting terhadap pembangunan di negara ini. Kita mengetahui bahwasanya mahasiswa mempunyai sikap kritis, seorang agen perubahan yang memiliki analisa yang tajam terhadap fenomena yang terjadi disekitarnya. Sebagai agen perubahan dengan analisa yang tajam maka masiswa benar – benar menjadi suatu momok yang ditakuti oleh pemerintah. Apabila setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah sering kali merugikan terhadap rakyat, maka yang pertama kali menolak (berontak) terhadap kebijakan tersebut adalah mahasiswa. Jadi, masiswa begitu berharganya dimata rakyat.
                Coba kita bayangkan, dulu pada tahun 1966 mahasiswa bisa menjatuhkan Soekarno. Dan terulang pada tahun 1998 mahasiswa bersatu meruntuhkan rezim orde baru. Maka, di sini sudah jelas sesungguhnya peran mahasiswa terhadap sebuah kebijakan yang diambil oleh pemerintah begitu penting.
                Benar apa yang dikatan Bung Karno, “Berikan Aku 10 pemuda, maka akan saya goncangkan dunia.”  Alasan Bung Karno tidak mengatakan orang tua dan malah melilih pemuda karena sudah jelas pemuda adalah manusia yang masih punya jiwa ksatria, baik jasmani dan rohani. Apalagi mahasiswa,  seorang pemuda yang sekaligus mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Pasti mereka mempunyai darah juang, jiwa yang begitu menggebu-gebu, intelektual yang begitu tinggi, dan sikap kritis, ketika melihat kebijakan yang hanya memihak sebelah. Mungkin itu semua dimiliki mahasiswa dulu. Mahasiswa angkatan 1966 dan 1998.
                Pernah aku bicara dengan anak SMA yang ingin daftar di universitas, “Mas, aku ini harus ambil jurusan apa yang sekiranya ketika lulus bisa langsung kerja?” Ketika kita menganalisa pertanyaan tadi, maka ada kejanggalan terhadap pertanyaan tersebut bahwa kita di universitas berlomba untuk kerja. Ketika mendahulukan pekerjaan, maka mahasiswa sekarang hanya mencari aman agar bisa dapat nilai Indeks Prestasi (IP) yang tinggi. Dia tidak peduli lagi terhadap apa yang terjadi di sekitarnya
                Mungkin itu benar ketika dalam keinginan individualisme, tapi harus diingat mahasiswa wajib memiliki rasa tanggung jawab sosial. Saat kita sudah tidak peduli terhadap sekitarnya, maka secara tidak langsung kita sudah mengkhianati fungsi sebagai seorang mahasiswa. Sedikit mahasiswa sekarang sudah tidak mau ikut campur dalam keputusan yang diambil pemerintah. Mereka tidak mau mengasah soft skill yang mereka miliki. Yang mereka selalu katakan adalah akademik, akademik, dan akademik. Nilai tinggi dan cepat lulus agar bisa langsung bekerja.
                Bilamana ada suatu kebijakan yang tidak populis, mereka hanya diam, mengamini, dan tidak ambil pusing yang penting dirinya aman. Jika sudah seperti itu, mahasiswa hanya jadi hewan di mata para petinggi, baik pemerintah maupun pihak kampus. Layaknya sapi yang diam dan mengikuti apa yang disuruh si pengembala. Tali yang ada dilehernya di tarik kanan atau kiri maka si sapi tersebut hanya menuruti si pengembala. Bagi mereka yang penting makan dan makan. Bila kita hanya mengikuti sesuatu yang menurut kita salah, maka tidak ada bedanya dengan sapi tersebut.
Mahasiswa sekarang mahasiswa yang hilang rasa kekritisan, tidak punya rasa solidaritas terhadap sesamanya dan hanya mau di perbudak oleh sistem yang hanya memihak sebelah. Mungkin ini yang terjadi pada mahasiswa baru dan juga saya.
                Tapi, mudah – mudahan ini hanya suatu kekhilafan karena masih belum mengerti seberapa besar peran masiswa. Sejujurnya saya sendiri tidak terlalu kritis seperti mahasiswa dulu, tapi saya tidak mau juga bila saya disamakan dengan sapi. Karena paling tidak, saya tidak mau dikekang dalam naluri berpikir. Ingin rasanya mencari kawan – kawan mahasiswa yang merasa sadar dan memanusiakan seorang manusia.   

No comments:

Post a Comment

Menghadapi kenyataan tanpa masa depan

Kemana kaki akan diayunkan, Sementara malam tak lagi menjadi tempat persinggahan. Kemana kaki akan diarahkan, Saat kenyataan bersembunyi pad...