Monday, June 2, 2014

FATIMAH

fatimah adalah sosok yang sangat kuat/tegar dia selalu banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama untuk anak kesanyanganya. Dia tidak pernah merasa lelah sedikitpun apalagi ngeluh pada orang lain. Semenjak suaminya wafat, pada saat itu juga anaknya masih berumur satu tahun Fatimah merasa sangat sedih Karena harus pisah dengan orang yang sangat dia sayangi. suaminya adalah laki-laki yang baik dan menghormati orang lain maka dari itu dia tidak mau menikah lagi dan memilih janda.
Saya yang menjadi adiknya kenal betul dengan segala aktifitas, karakter, dan bagaimana dia harus menghadapi realita kehidupan. Mungkin penghuni rumahnya hanya Fatimah (sang president keluarga), anaknya zain, dan saya adiknya Eman. Bagi saya kakakku ini adalah best of the best. Karena dengan tegar dan sabar beliau berusaha agar tidak mengeluh pada orang lain selagi dirinya mampu untuk menghadapi segala beban yang ada.
                Setelah empat puluh hari semenjak kakak ipar saya mninggal, kakak saya harus mulai menanggung semua keperluan keluarga, fatimah hanya bekerja sebagai pengembala sapi penghasilanya tidak tetap kadang satu hari tidak menghasilkan uang sama sekali. Tapi, dia selalu semangat dan mendidik anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
Pada suatu hari saat beliau sedang mengambil rumput untuk makan sapinya ternyata kakinya terkilir. Tapi, dia tidak mau orang lain tau bahkan termasuk saya dan zain (anaknya sendiri). Aku melihat dari jauh jalanya terpincang-pincang, ternyata ketika sampai dirumah dia mencoba jalan dengan kaki tegap. Tapi, aku yakin kakak perempuan saya hanya bohong sekedar ingin menutupi kesakitanya. Aku yang sudah tau bahwa kakinya terkilir mencoba menanyakan. “kak, kenapa kakinya kok jalan terpincang-pincang? ”.
“ah, kapan kakak jalanya pincang, kamu asal bicara aja ni lihat kaki kakak baik-baik saja.” Fatimah mencoba berjalan untuk membuktikan pada saya. Tapi, karena terkilirnya sudah membengkak dan agak parah akhirnya dia merasakan sakit.
“tu kan kak, kakak bohong pada ku”.
                akhirnya fatimah mengaku juga.  “ya kakak ngaku, tadi saat kakak mengambil rumput, tidak sengaja kakak menginjak lubang dan kakiku terkiklir. Tapi jangan bilang pada ponakanmu ya?”
                “ ya! Aku tidak akan bilang sama zain, tapi sekarang kakak pergi pada tukang urut ya?”
                “ya sebentar kalo sudah sholat maghrib.”
                Kini zaman semakin edan semua kebutuhan bahan pokok sudah naik, tidak ada yang mendengarkan jerit tangis masyarakat yang lagi lapar. Justru para penguasa sibuk  memperkaya dirinya serta membangun singgasana yang di huni kaum munafik Bahkan para penguasa rela mengorbankan rakyatnya hanya demi kekuasaan yang menguntungkan bagi kalangan tertentu. Saya hanya berfikir apa mereka (penguasa) tidak malu dan sadar kalau tanah yang mereka injak adalah darah para nenek moyang kita, yang beliau (pejuang) rela mati untuk mensejahterakan para anak-anaknya.  
                Keadaan keluarga Fatimah makin-makin hari makin memburuk persediaan di dapur sudah menipis dan anaknya sudah mulai menginjak sekolah dasar yang mengharuskan kebutuhan keluarga semakin meningkat. Sedangkan saya hanya bisa membantu sedikit, maklum saya hanya kerja sebagai tukang bejak terkadang saya masih harus minta pada kakak perempuanku ini. Tapi, Fatimah selalu berkata pada kami berdua “di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan, kalian jangan pernah takut untuk menghadapi apa yang kalian lakukan selagi itu tidak keluar dari apa yang di perintah tuhan, serta tidak menyalahi aturan negara”.
                “Tapikan terkadang penguasa bersikap sewenang-wenang pada kita kak?” Saya coba bertanya.
                “kamu harus ingat tidak semuanya para penguasa itu sewenang-wenang pada rakyatnya pasti diantara mereka ada yang baik, lagian Allah akan selalu bersama orang-orang yang baik. Dan kita tidak usah berprasangka buruk pada para penguasa. kita jalani hidup ini dengan sabar dan berusaha semampu mungkin.”
                “Terus kalau kebutuhan pangan keluarga semakin meninggi, bagaimana dengan nasib rakyat kecil seperti kita ini kak?.”
                “Sekarang kalian ingat ya, hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara tak ada yang tidak mungkin selagi kita mampu. Lagian kita itu lebih baik memberi dari pada meminta. Biar pemerintah malakukan apa saja pada kita yang penting kita selalu menghadapi dan tidak pernah takut terhadap tirani yang mereka lakukan.”
                “tapi bolehkan kak kalau terkadang kita menentang terhadap apa yang dilakukan para penguasa?”
                “Itu boleh saja karena setiap manusia berhak untuk mendapatkan haknya, bahkan kakak senang jika kamu berani mengatakan kebenaran.”
                Jam sudah menunjukkan jam 19.30 kami harus makan malam dulu setelah itu tidur atau tidak kita nonton tv. Saya terkadang masih main kerumah teman untuk ngobrol, sedangkan kakak saya nonton tv. Semua berjalan sebagai mana biasanya walaupun saya tahu kalau kebutuhan ekonomi semakin mendesak. Akhir-akhir ini kakak saya hanya bisa menyuguhkan singkong rebus, tapi kakak saya selalu mengingatkan kami agar selalu bersyukur dengan apa yang sudah diberikan tuhan pada kita. Keindahan dan tangis yang tidak meneteskan air mata berbaur menjadi satu, kekejaman para penguasa dan lembutnya kasih sayang yang di berikan kakak saya menjadi satu.
                Suatu ketika kakak saya jatuh sakit dan saya sudah coba untuk mengajaknya kepuskesmas terdekat. Tapi kakak saya tidak mau karena biaya yang harus dikeluarkan sangat mahal, kakak saya hanya minum obat yang hanya beli diwarung. Lama kelamaan keadaan kakak saya makin memburuk wajah cantiknya berganti warna keputih-putihan untuk jalan saja sekarang sudah tidak kuat lagi. Saya memberanikan diri untuk bawa kakak saya kerumah sakit terdekat, dengan uang tabungan yang kami kumpulkan selama ini. Saat sampai di rumah sakit ternyata penyakit yang di derita kakak saya adalah kanker otak yang kata dokter hidup kakak saya tidak akan lama lagi. Dan segera di operasi biar tidak menjalar kebagian tubuh yang lain. Tapi biaya yang harus saya bayar sangat mahal mana mungkin saya bisa membayar uang sebesar itu. Dan pihak rumah sakit tidak mau melakukan operasi kalau saya tidak melunasi administrasinya.
                Saya keluar dari rumah sakit dengan badan yang sangat lunglai melihat suatu keadaan yang tidak terduga. Bagaimna tatanan Negara yang selalu uang dan kekayaan yang menjadi unsur pertama. Angin memperkosa semua tubuh, bulan yang di tutupi awan hitam bintang menghilang dari jangkauan mata serta kalilawar langsap mencari makan. Semua itu hanya membuat Kamarahan ku berbaur dengan kesedihan dan saya tidak tahu harus bagaimana agar bisa membayar semua administrasi keperluan kakak saya.
                Kini matahari sudah mulai terbit di ufuk timur, saya kembali untuk menemani kakak saya di dalam rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit kakak saya mamanggil.  Adikku jangan pernah kau bersedih jika saya kelak meninggalkan kalian. Semua ini sudah menjadi takdir tuhan. Saya mohon padamu jangan pernah berhenti untuk belajar serta berusaha agar menjadi orang yang lebih baik. Dan saya nitip zain padamu bimbinglah dia agar menjadi orang yang sholeh.”
                “Iya kak. Tapi kakak harus berjanji untuk sembuh dari penyakit ini”
                Tak terduga fatimah menampar pipi saya. “kamu sudah lupa bahwasanya semua yang menentukan hidup itu cuman Allah, kamu jangan pernah ingkar dari jalan Allah. Kamu jangan marah tamparan tadi adalah tamparan terakhir dari kakak. Ingat pesan dari kakak ya, kakak sekarang sudah tidak sanggup lagi Ashadu alla I………la haillallah waashaduanna muhammadurrosulullah.” Sesaat kakak tersenyum sambil menenggelamkan matanya, serta air mata yang mengalir dari matanya adalah menjadi tetesan air mata terakhir yang saya lihat. Kini semua sudah menjadi sunyi hanya suara tangis zain yang bisa saya dengar, kerabat-kerabat serta tetangga diam melihat keadaan ini. Tak terasa air mata membasahi semua pipiku.
                Dokter datang berbondong-bondong seperti lebah menghisap madu, untuk menyelamatkan nyawa kakak saya aku hanya bisa menatap kemarahan pada mereka yang berbaju putih seharusnya kalian yang mati bukan kakak saya, aku bergumam dalam hati. Kini mereka hanya sok menjadi malaikat dengan menolong kematian kakak, padahal mereka kemaren tidak mau melakukan operasi karena hanya administrasi tidak lengkap kalian. Semua berbaur menjadi kepedihan yang membuat saya tidak percaya pada pemerintah di negeri ini.

No comments:

Post a Comment

Menghadapi kenyataan tanpa masa depan

Kemana kaki akan diayunkan, Sementara malam tak lagi menjadi tempat persinggahan. Kemana kaki akan diarahkan, Saat kenyataan bersembunyi pad...