Saya
yang menjadi adiknya kenal betul dengan segala aktifitas, karakter, dan
bagaimana dia harus menghadapi realita kehidupan. Mungkin penghuni rumahnya
hanya Fatimah (sang president keluarga), anaknya zain, dan saya adiknya Eman. Bagi
saya kakakku ini adalah best of the best. Karena dengan tegar dan sabar beliau
berusaha agar tidak mengeluh pada orang lain selagi dirinya mampu untuk
menghadapi segala beban yang ada.
Setelah empat puluh hari
semenjak kakak ipar saya mninggal, kakak saya harus mulai menanggung semua keperluan
keluarga, fatimah hanya bekerja sebagai pengembala sapi penghasilanya tidak
tetap kadang satu hari tidak menghasilkan uang sama sekali. Tapi, dia selalu
semangat dan mendidik anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
Pada
suatu hari saat beliau sedang mengambil rumput untuk makan sapinya ternyata
kakinya terkilir. Tapi, dia tidak mau orang lain tau bahkan termasuk saya dan zain
(anaknya sendiri). Aku melihat dari jauh jalanya terpincang-pincang, ternyata
ketika sampai dirumah dia mencoba jalan dengan kaki tegap. Tapi, aku yakin kakak
perempuan saya hanya bohong sekedar ingin menutupi kesakitanya. Aku yang sudah
tau bahwa kakinya terkilir mencoba menanyakan. “kak, kenapa kakinya kok jalan
terpincang-pincang? ”.
“ah,
kapan kakak jalanya pincang, kamu asal bicara aja ni lihat kaki kakak baik-baik
saja.” Fatimah mencoba berjalan untuk membuktikan pada saya. Tapi, karena
terkilirnya sudah membengkak dan agak parah akhirnya dia merasakan sakit.
“tu
kan kak, kakak bohong pada ku”.
akhirnya fatimah mengaku juga. “ya kakak ngaku, tadi saat kakak mengambil
rumput, tidak sengaja kakak menginjak lubang dan kakiku terkiklir. Tapi jangan
bilang pada ponakanmu ya?”
“ ya! Aku tidak akan bilang sama
zain, tapi sekarang kakak pergi pada tukang urut ya?”
“ya sebentar kalo sudah sholat
maghrib.”
Kini zaman semakin edan semua
kebutuhan bahan pokok sudah naik, tidak ada yang mendengarkan jerit tangis
masyarakat yang lagi lapar. Justru para penguasa sibuk memperkaya dirinya serta membangun singgasana yang
di huni kaum munafik Bahkan para penguasa rela mengorbankan rakyatnya hanya
demi kekuasaan yang menguntungkan bagi kalangan tertentu. Saya hanya berfikir
apa mereka (penguasa) tidak malu dan sadar kalau tanah yang mereka injak adalah
darah para nenek moyang kita, yang beliau (pejuang) rela mati untuk
mensejahterakan para anak-anaknya.
Keadaan keluarga Fatimah
makin-makin hari makin memburuk persediaan di dapur sudah menipis dan anaknya
sudah mulai menginjak sekolah dasar yang mengharuskan kebutuhan keluarga
semakin meningkat. Sedangkan saya hanya bisa membantu sedikit, maklum saya
hanya kerja sebagai tukang bejak terkadang saya masih harus minta pada kakak
perempuanku ini. Tapi, Fatimah selalu berkata pada kami berdua “di mana ada
kemauan di situ pasti ada jalan, kalian jangan pernah takut untuk menghadapi
apa yang kalian lakukan selagi itu tidak keluar dari apa yang di perintah
tuhan, serta tidak menyalahi aturan negara”.
“Tapikan terkadang penguasa
bersikap sewenang-wenang pada kita kak?” Saya coba bertanya.
“kamu harus ingat tidak semuanya
para penguasa itu sewenang-wenang pada rakyatnya pasti diantara mereka ada yang
baik, lagian Allah akan selalu bersama orang-orang yang baik. Dan kita tidak
usah berprasangka buruk pada para penguasa. kita jalani hidup ini dengan sabar
dan berusaha semampu mungkin.”
“Terus kalau kebutuhan pangan
keluarga semakin meninggi, bagaimana dengan nasib rakyat kecil seperti kita ini
kak?.”
“Sekarang kalian ingat ya, hidup
ini adalah sebuah panggung sandiwara tak ada yang tidak mungkin selagi kita
mampu. Lagian kita itu lebih baik memberi dari pada meminta. Biar pemerintah
malakukan apa saja pada kita yang penting kita selalu menghadapi dan tidak
pernah takut terhadap tirani yang mereka lakukan.”
“tapi bolehkan kak kalau
terkadang kita menentang terhadap apa yang dilakukan para penguasa?”
“Itu boleh saja karena setiap
manusia berhak untuk mendapatkan haknya, bahkan kakak senang jika kamu berani
mengatakan kebenaran.”
Jam sudah menunjukkan jam 19.30
kami harus makan malam dulu setelah itu tidur atau tidak kita nonton tv. Saya terkadang
masih main kerumah teman untuk ngobrol, sedangkan kakak saya nonton tv. Semua
berjalan sebagai mana biasanya walaupun saya tahu kalau kebutuhan ekonomi
semakin mendesak. Akhir-akhir ini kakak saya hanya bisa menyuguhkan singkong
rebus, tapi kakak saya selalu mengingatkan kami agar selalu bersyukur dengan
apa yang sudah diberikan tuhan pada kita. Keindahan dan tangis yang tidak
meneteskan air mata berbaur menjadi satu, kekejaman para penguasa dan lembutnya
kasih sayang yang di berikan kakak saya menjadi satu.
Suatu ketika kakak saya jatuh
sakit dan saya sudah coba untuk mengajaknya kepuskesmas terdekat. Tapi kakak
saya tidak mau karena biaya yang harus dikeluarkan sangat mahal, kakak saya hanya
minum obat yang hanya beli diwarung. Lama kelamaan keadaan kakak saya makin
memburuk wajah cantiknya berganti warna keputih-putihan untuk jalan saja
sekarang sudah tidak kuat lagi. Saya memberanikan diri untuk bawa kakak saya
kerumah sakit terdekat, dengan uang tabungan yang kami kumpulkan selama ini.
Saat sampai di rumah sakit ternyata penyakit yang di derita kakak saya adalah
kanker otak yang kata dokter hidup kakak saya tidak akan lama lagi. Dan segera
di operasi biar tidak menjalar kebagian tubuh yang lain. Tapi biaya yang harus
saya bayar sangat mahal mana mungkin saya bisa membayar uang sebesar itu. Dan
pihak rumah sakit tidak mau melakukan operasi kalau saya tidak melunasi
administrasinya.
Saya keluar dari rumah sakit dengan
badan yang sangat lunglai melihat suatu keadaan yang tidak terduga. Bagaimna
tatanan Negara yang selalu uang dan kekayaan yang menjadi unsur pertama. Angin
memperkosa semua tubuh, bulan yang di tutupi awan hitam bintang menghilang dari
jangkauan mata serta kalilawar langsap mencari makan. Semua itu hanya membuat
Kamarahan ku berbaur dengan kesedihan dan saya tidak tahu harus bagaimana agar
bisa membayar semua administrasi keperluan kakak saya.
Kini matahari sudah mulai terbit
di ufuk timur, saya kembali untuk menemani kakak saya di dalam rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit kakak saya mamanggil. Adikku jangan pernah kau bersedih jika saya
kelak meninggalkan kalian. Semua ini sudah menjadi takdir tuhan. Saya mohon
padamu jangan pernah berhenti untuk belajar serta berusaha agar menjadi orang
yang lebih baik. Dan saya nitip zain padamu bimbinglah dia agar menjadi orang
yang sholeh.”
“Iya kak. Tapi kakak harus
berjanji untuk sembuh dari penyakit ini”
Tak terduga fatimah menampar
pipi saya. “kamu sudah lupa bahwasanya semua yang menentukan hidup itu cuman
Allah, kamu jangan pernah ingkar dari jalan Allah. Kamu jangan marah tamparan
tadi adalah tamparan terakhir dari kakak. Ingat pesan dari kakak ya, kakak
sekarang sudah tidak sanggup lagi Ashadu alla I………la haillallah waashaduanna
muhammadurrosulullah.” Sesaat kakak tersenyum sambil menenggelamkan matanya,
serta air mata yang mengalir dari matanya adalah menjadi tetesan air mata
terakhir yang saya lihat. Kini semua sudah menjadi sunyi hanya suara tangis
zain yang bisa saya dengar, kerabat-kerabat serta tetangga diam melihat keadaan
ini. Tak terasa air mata membasahi semua pipiku.
Dokter datang berbondong-bondong seperti lebah menghisap madu, untuk
menyelamatkan nyawa kakak saya aku hanya bisa menatap kemarahan pada
mereka yang berbaju putih seharusnya kalian yang mati bukan kakak saya,
aku
bergumam dalam hati. Kini mereka hanya sok menjadi malaikat dengan
menolong
kematian kakak, padahal mereka kemaren tidak mau melakukan operasi karena hanya administrasi
tidak lengkap kalian. Semua berbaur menjadi kepedihan yang membuat saya tidak percaya
pada pemerintah di negeri ini.
No comments:
Post a Comment