Monday, June 2, 2014

tirani kemunafikan

   Kenangan itu seakan mengakar dalam otakku. Saat aku ingin melupakan kenangan itu, saat itu juga hati saya terasa sakit.
Kini aku terbelenggu dengan semua kekejaman yang dilakukan oleh seseorang oknum berdasi dengan sepatu mengkilat. Serta para “budaknya” yang memakai baju coklat serta peci miring yang mirip dengan anggota militer.
Perlahan namun pasti, merekamenjarah semua milik saudara-saudara kami.Setelahitu mereka bangun istana yang penuh kebohongan. Serta mendirikan gedung-gedung yang dihuni kaum munafik. Padahal tanah yang mereka tempati tidak lain milik saudara-saudara saya.
            Dulu sebelum gedung dan istana itu terbentang, disanalah semua saudaraku mencari nafkah, menjalin erat silaturahim. Tapi,  sekarang semua keindahan itu lenyap tinggal kenangan.
Saya tidak tahu kemana semua keluargaku tersebut itu, nak?” Kata Kakek Soenarto.
Itulah yang di ucapkan Kakek Soenartosaat saya menanyakan kisah hidupnya. Kini Kakek Soenarto hidup sebatang kara. Dua tahun lalu istri kesayanganya meninggal dunia.Beliau hanya dianugrahi Rusmiati,seorang anak perempuan yang kini lebih memilih hidup dikota bersama suaminya. Hanya satu bulan sekali Rusmiati menjengok Kakek Soenarto, itu pun kalau sempat. Terkadang sampai dua bulan baru bisa menjengok kakek soenarto.
Saya sendiri dipanggil Siputoleh Kakek Soenartoini. Padahal nama panggilan saya yang sebenarnya adalah “Sipul”. Mungkin karena badan saya yang kecil atau Kakek Soenarto yang sudah kurang tepat untuk melafalkan akhiran“L, sehingga L diganti dengan T. Tapi, biarlah kakek yang umurnya sudah tujuh puluhan lebih ini manggilapa saja yang dia suka, yang penting Kakek Soenarto ini selalu baik pada saya. Dan sering mengajak saya makan singkong rebus dari hasil panenya. Lagi pula rumahnya tidak terlalu jauh dengan saya.
 “Put,nanti kalau kamu sudah besar dan menjadi orang sukses maka jangan sampai seperti orang-orang yang saya jelaskan tadi, ya.Kan kamu sekarang sudah belajar di Universitas. Sebentar lagi kamu pasti menjadi figur di kota ini. Maka jadilah figur yang baik dan bermoral”.Kata kakek, menasehati.
“Memangnya apa saja yang sudah mereka (penguasa) rampas dari kakek selama ini?“ tanyaku, mengorek kisah hidup Kakek Soenarto lebih dalam.
“Ya, kamu lihat gedung-gedung bertingkat yang ada di kota itu, yang isinya bermacam-macam.Dulunya, gedung-gedung ituadalah pasar.Disana kakek dan semua orang-orang mencari nafkah,termasuk kakek kamu,yang sudahkakek anggap seperti saudara kakek sendiri. Kami dulu bisa menjalin silaturahim, dan berdagang bersama di tempat itu.Bukan hanya itu,Put, pasar adalah tempat sejarah bagi kami dalam memperjuangkan kemerdakaan. Karena ditempat itu kami menyusun siasat, dalam menaklukan para penjajah.Hanya saja semua sudah berubah.”
Aku masih menyimak apa yang kakek katakan. Ia tampak menyesali apa yang telah banyak berubah.
“Beberapa tahun yang lalu kamidisuruh pindah tempat, karena ditempat itu akan dibangun gedung besar yang lebih baik untuk kemajuan kota.Kami disuruh pindah pada tempat yang telah disediakan.Kami mengira ini akan lebih baik bagi perkembangan kota. Tapi, ternyata semua jauh dari perkiraan kami. Kami semua di pindah ke ujung sana yang luasnya tidak seberapa, tapi kami masih tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti instruksi pemerintah. Karena disana kita masih bisa berdagang walau terkadang orang yang mau belanja di pasar tidak terlalu banyak, tidak seperti kakek masih berdagang di tempat yang dulu.“Ujarnya, mengakhiri pembicaraan.
Ternyata Kakek Soenarto berhenti cerita karena singkong yang baru direbus  kayaknya sudah matang.Sepertinya akuakan makan singkong rebus lagi nih, kakek yang satu ini tahu saja kalau aku masih belum makan. Tidak berapa lama Kakek Soenarto masuk ke dapur, kemudian keluar kembali sambil membawa piring yang berisi singkokng rebus.
“Put,sana ambil ke dapur cabenya, biar makanya lebih enak?” perintah kakek.
“Iya,kek.Kakek tahu saja kalau saya lapar.” Jawabku, sambil bergegas masuk ke dalam kamar.
“Sudah cepat sana jangan banyak bicara, kamu paling bisa kalau acara makan-makan.”Kakek langsung membalas pembicaraan saya.
Semua makanan sudah siap di meja, dan lidah saya sudah tidak tahan untuk menyantap singkong rebus yang disuguhkan kakek.Dan Kakek Soenarto langsung menyuruh saya makan, dan tanpa banyak fikir aku langsung memakan makanan tersebut.Tapi aku masih penasaran dengan cerita yang baru saja diceritakan oleh Kakek Soenarto.
“Biar makanya lebih enak, alangkah baiknya kakek melanjutkan cerita yang tadi terputus, bagaimana, kek?”Kataku, menawarkan.
“Ya makan saja, biar kakek melanjutkan cerita perjalanan hidup kakek.”
“Ya,ayo kek lebih cepat kan lebih baik kek.” Tukasku, mendesak.
“Ya sudah, di tempat yang baru itu secara perlahan banyak pedagang yang berhenti, dan lebih memilih mencari penghasilan lain. Ada yang memilih bertani, ada yang jadi buruh pabrik, ada yang keluar kota, dan yang paling parah ada yang jadi pemulung serta pengangguran karena mereka yang banyak mengalami kerugian.Jadi yang bertahan di pasar hanya beberapa orang.Namun, kami masih belum malakukan tindakan apa-apa.”
“Setelah delapan bulan, terjadi bencana yang lebih parah lagi.Kami disuruh pindah tempat lagi dengan alasan akan dibuka mall baru. Sedangkan kami di suruh pindah ketempat yang agak jauh dari kota. Letaknya disebelah makam [1] sana itu,Put.” Kakek mengakhiri ceritanya.Kini Kakek Soenarto meneteskan air mata, meski ia mencoba menyembunyikanya dariku.
“Kakek kenapa?Sepertinya kakek menangis?”
“Ah, tidak, kok, kakek hanya keselek.”Bantah kakek.
“Ya sudah, kakek akan melanjutkanya lagi. Tapi kali ini kami melakukan perlawanan.Tidak lain saya dan kakek kamu itu yang memplopori. Tapi kami dipaksa bahkan akan dengan ancaman akan digusur, sedangkan kami hanya diberi waktu satu minggu untuk pindah tempat. Kami semua merencanakan sesuatu yaitu untuk melakukan demo ke dewan perwakilan rakyat (DPR) dan juga akan minta pertanggung jawaban dari kepala deerah serta minta penjelasan yang kongkrit.
Tepatnya hari rabu …kami melakukan demo ke DPR, saya yang menjadi korlap dan Minarti perempuan yang saya kagumi, tidak lain nenek kamu kan put. Dia orasi  dengan sepenuh hati kami mulai dari jam 8.30 wib. Saya, kakek-nenek kamu, serta kawan yang lainya rela-rela berdiri dibawah terik matahari hingga keringat  berkucuran di seluruh tubuh kami. Tapi tidak ada tanggapan dari pihak DPR.Kami mencoba menerobos pagar yang dijaga oleh satpol PP, dan juga polisi yangsudah bersiap dari tadi pagi untuk menghalangi aksi kami.”
“Setelah itu terjadi chaosyang sampai menewas dua anggota demonstran dan kami terpaksa mundur karena sudah banyak kawan kami yang lari untuk menyelamatkan dirinya dari tembakan serta pukulan dari pihak polisi.Kami semua melakukan rembuk lagi di pasar, tapi terlalu banyak pemikiran. Sehingga ada yang menyerah dan ada yang ingin mempertahankan, apa lagi yang keluarganya mati. Kami yang ingin mempertahankanya bersikeras melawan terutama nenek kamu, Put.
Setelah satu minggu, tepatnya hari senin teryanta dari pihak pemerintah datang dengan membawa buldoser penghancur pasar.Kami semua melakukan perlawan hingga benyak yang menangis.Tapi ini tidak ada artinya bagi pemerintah, kami yang sudah kalah jumlah terus melawan tapi dengan kekuatan yang besar pihak pemerintah tetap bisa menghancurkan pasar tersebut. Mobil besar tersebut tanpa ampun meratakan pasar tadi menjadi tanah.“Akhirnya Kakek Soenartokembali meneteskan air mata, dan berhenti cerita.
“ Itukankakek menangis lagi.” Saya coba meredakan suasana.
“Ya put, karena mata kakek ini selalu meneteskan air mata karena sedih bercampur marah pada pihak pemerintah yang selalu memainkan nasib rakyat jelata hanya sebuah kepentingan politik, tanpa ada fikir panjang serta memikirkan nasib kami.” Kakek coba tidak mau melanjutkan ceritanya.
Hari sudah sore, mataharipun sudah merendahkan diri diufuk barat, dan bulan mengintip dari belakangnya.Kalelawarpun pergi mencari makan.Kakek Soenarto menyuruh aku balik takut saya dicari sama orang tuaku. Tak terasa akupun sudah kenyang sambil banyak memetik hikmah serta mengetahui keserakahan pemerintah dalam memainkan monopoli ekonomi.Aku langsung pamit ke Kakek Soenarto, tapi air mata masih mengalir di matanya.
“Ya sudah kek saya pamit dulu, lagi pula ini sudah hampir maghrib, tapi kapan- kapan ingin mendengar atau ingin tahu kelanjutan serita yang tadi, ya, kek dan terima kasih akan singkong rebusnya,kek .”Aku langsung pamit pada kakek sambil mencium kedua tangan Kakek Soenarto.
“Ya, hati-hati put. Tumben kamu bilang terima kasih atas singkong rebus, biasanya kan langsung pulang.”Kakek Soenarto membalas pembicaraanku.Walau suara yang dilantunkan beliau agar sesak karena tadi beliau menangis.
“Ya sudah aku langsung balik kek Assalamualaikum.”Aku langsung pulang kerumah.

No comments:

Post a Comment

Menghadapi kenyataan tanpa masa depan

Kemana kaki akan diayunkan, Sementara malam tak lagi menjadi tempat persinggahan. Kemana kaki akan diarahkan, Saat kenyataan bersembunyi pad...