Kini aku terbelenggu dengan semua kekejaman yang
dilakukan oleh seseorang oknum berdasi dengan sepatu mengkilat. Serta para “budaknya” yang memakai baju
coklat serta peci miring yang mirip dengan anggota militer.
Perlahan
namun pasti, merekamenjarah semua
milik saudara-saudara
kami.Setelahitu
mereka
bangun istana yang penuh kebohongan.
Serta mendirikan gedung-gedung yang dihuni kaum munafik. Padahal tanah yang mereka tempati tidak lain milik saudara-saudara saya.
Dulu
sebelum gedung dan istana itu terbentang, disanalah semua saudaraku mencari nafkah, menjalin erat silaturahim. Tapi, sekarang semua
keindahan itu lenyap tinggal kenangan.
“Saya tidak tahu kemana semua keluargaku tersebut itu, nak?” Kata Kakek Soenarto.
Itulah yang di ucapkan Kakek Soenartosaat saya menanyakan
kisah hidupnya. Kini Kakek Soenarto hidup sebatang kara. Dua tahun lalu istri
kesayanganya meninggal dunia.Beliau hanya dianugrahi Rusmiati,seorang anak
perempuan yang kini lebih memilih hidup dikota bersama suaminya. Hanya satu
bulan sekali Rusmiati menjengok
Kakek Soenarto, itu pun kalau sempat. Terkadang sampai dua bulan baru bisa menjengok kakek
soenarto.
Saya sendiri dipanggil “Siput”oleh Kakek Soenartoini. Padahal
nama panggilan saya yang sebenarnya adalah “Sipul”. Mungkin karena badan saya yang kecil atau Kakek
Soenarto yang sudah kurang tepat untuk melafalkan akhiran“L”, sehingga “L” diganti dengan “T”. Tapi, biarlah kakek yang umurnya sudah tujuh puluhan
lebih ini manggilapa
saja yang dia suka, yang penting Kakek
Soenarto ini selalu baik pada saya. Dan sering mengajak saya makan singkong
rebus
dari hasil panenya. Lagi
pula rumahnya tidak
terlalu jauh dengan saya.
“Put,nanti kalau kamu sudah besar dan menjadi
orang sukses maka jangan sampai seperti orang-orang yang saya jelaskan tadi,
ya.Kan kamu sekarang sudah belajar di Universitas. Sebentar lagi kamu pasti
menjadi figur di kota ini. Maka jadilah figur yang baik dan bermoral”.Kata
kakek, menasehati.
“Memangnya
apa saja yang sudah mereka (penguasa) rampas dari kakek selama ini?“ tanyaku,
mengorek kisah hidup Kakek Soenarto lebih dalam.
“Ya,
kamu lihat gedung-gedung
bertingkat yang ada di kota itu, yang isinya bermacam-macam.Dulunya,
gedung-gedung ituadalah pasar.Disana kakek dan semua orang-orang mencari nafkah,termasuk
kakek kamu,yang sudahkakek anggap seperti saudara kakek sendiri. Kami dulu bisa
menjalin silaturahim, dan berdagang bersama di tempat itu.Bukan hanya itu,Put,
pasar adalah tempat sejarah bagi kami dalam memperjuangkan kemerdakaan. Karena
ditempat itu kami menyusun siasat, dalam menaklukan para penjajah.Hanya saja
semua sudah berubah.”
Aku
masih menyimak apa yang kakek katakan. Ia tampak menyesali apa yang telah
banyak berubah.
“Beberapa
tahun yang lalu kamidisuruh pindah tempat, karena ditempat itu akan dibangun
gedung besar yang lebih baik untuk kemajuan kota.Kami disuruh pindah pada tempat
yang telah disediakan.Kami mengira ini akan lebih baik bagi perkembangan kota. Tapi,
ternyata semua jauh dari perkiraan kami. Kami semua di pindah ke ujung sana yang luasnya
tidak seberapa, tapi kami masih tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti instruksi
pemerintah. Karena disana kita masih bisa berdagang walau terkadang orang yang
mau belanja di pasar tidak terlalu banyak, tidak seperti kakek masih berdagang
di tempat yang dulu.“Ujarnya, mengakhiri pembicaraan.
Ternyata
Kakek Soenarto berhenti cerita karena singkong yang baru direbus kayaknya sudah matang.Sepertinya akuakan
makan singkong rebus lagi nih, kakek
yang satu ini tahu saja kalau aku masih belum makan. Tidak berapa lama Kakek
Soenarto masuk ke dapur, kemudian keluar kembali sambil membawa piring yang
berisi singkokng rebus.
“Put,sana
ambil ke dapur cabenya, biar makanya lebih enak?” perintah kakek.
“Iya,kek.Kakek
tahu saja kalau saya lapar.” Jawabku, sambil bergegas masuk ke dalam kamar.
“Sudah
cepat sana jangan banyak bicara, kamu paling bisa kalau acara makan-makan.”Kakek
langsung membalas pembicaraan saya.
Semua
makanan sudah siap di meja, dan lidah saya sudah tidak tahan untuk menyantap
singkong rebus yang disuguhkan kakek.Dan Kakek Soenarto langsung menyuruh saya
makan, dan tanpa banyak fikir aku langsung memakan makanan tersebut.Tapi aku
masih penasaran dengan cerita yang baru saja diceritakan oleh Kakek Soenarto.
“Biar
makanya lebih enak, alangkah baiknya kakek melanjutkan cerita yang tadi terputus,
bagaimana, kek?”Kataku, menawarkan.
“Ya
makan saja, biar kakek melanjutkan cerita perjalanan hidup kakek.”
“Ya,ayo
kek lebih cepat kan lebih baik kek.” Tukasku, mendesak.
“Ya
sudah, di tempat yang baru itu secara perlahan banyak pedagang yang berhenti,
dan lebih memilih mencari penghasilan lain. Ada yang memilih bertani, ada yang
jadi buruh pabrik, ada yang keluar kota, dan yang paling parah ada yang jadi
pemulung serta pengangguran karena mereka yang banyak mengalami kerugian.Jadi
yang bertahan di pasar hanya beberapa orang.Namun, kami masih belum malakukan
tindakan apa-apa.”
“Setelah
delapan bulan, terjadi bencana yang lebih parah lagi.Kami disuruh pindah tempat
lagi dengan alasan akan dibuka mall baru. Sedangkan kami di suruh pindah
ketempat yang agak jauh dari kota. Letaknya disebelah makam
[1]
sana itu,Put.” Kakek mengakhiri ceritanya.Kini Kakek Soenarto meneteskan air
mata, meski ia mencoba menyembunyikanya dariku.
“Kakek
kenapa?Sepertinya kakek menangis?”
“Ah,
tidak, kok, kakek hanya keselek.”Bantah kakek.
“Ya
sudah, kakek akan melanjutkanya lagi. Tapi kali ini kami melakukan perlawanan.Tidak
lain saya dan kakek kamu itu yang memplopori. Tapi kami dipaksa bahkan akan dengan
ancaman akan digusur, sedangkan kami hanya diberi waktu satu minggu untuk
pindah tempat. Kami semua merencanakan sesuatu yaitu untuk melakukan demo ke
dewan perwakilan rakyat (DPR) dan juga akan minta pertanggung jawaban dari
kepala deerah serta minta penjelasan yang kongkrit.
Tepatnya
hari rabu …kami melakukan demo ke DPR, saya yang menjadi
korlap dan Minarti perempuan yang saya kagumi, tidak lain nenek kamu kan put.
Dia orasi dengan sepenuh hati kami mulai
dari jam 8.30 wib. Saya, kakek-nenek kamu, serta kawan yang lainya rela-rela
berdiri dibawah terik matahari hingga keringat
berkucuran di seluruh tubuh kami. Tapi tidak ada tanggapan dari pihak
DPR.Kami mencoba menerobos pagar yang dijaga oleh satpol PP, dan juga polisi
yangsudah bersiap dari tadi pagi untuk menghalangi aksi kami.”
“Setelah
itu terjadi chaosyang sampai menewas
dua anggota demonstran dan kami terpaksa mundur karena sudah banyak kawan kami
yang lari untuk menyelamatkan dirinya dari tembakan serta pukulan dari pihak
polisi.Kami semua melakukan rembuk lagi di pasar, tapi terlalu banyak
pemikiran. Sehingga ada yang menyerah dan ada yang ingin mempertahankan, apa
lagi yang keluarganya mati. Kami yang ingin mempertahankanya bersikeras melawan
terutama nenek kamu, Put.
Setelah
satu minggu, tepatnya hari senin teryanta dari pihak pemerintah datang dengan
membawa buldoser penghancur pasar.Kami semua melakukan perlawan hingga benyak
yang menangis.Tapi ini tidak ada artinya bagi pemerintah, kami yang sudah kalah
jumlah terus melawan tapi dengan kekuatan yang besar pihak pemerintah tetap
bisa menghancurkan pasar tersebut. Mobil besar tersebut tanpa ampun meratakan
pasar tadi menjadi tanah.“Akhirnya Kakek Soenartokembali meneteskan air mata,
dan berhenti cerita.
“
Itukankakek menangis lagi.” Saya coba meredakan suasana.
“Ya
put, karena mata kakek ini selalu meneteskan air mata karena sedih bercampur
marah pada pihak pemerintah yang selalu memainkan nasib rakyat jelata hanya
sebuah kepentingan politik, tanpa ada fikir panjang serta memikirkan nasib
kami.” Kakek coba tidak mau melanjutkan ceritanya.
Hari
sudah sore, mataharipun sudah merendahkan diri diufuk barat, dan bulan
mengintip dari belakangnya.Kalelawarpun pergi mencari makan.Kakek Soenarto
menyuruh aku balik takut saya dicari sama orang tuaku. Tak terasa akupun sudah
kenyang sambil banyak memetik hikmah serta mengetahui keserakahan pemerintah
dalam memainkan monopoli ekonomi.Aku langsung pamit ke Kakek Soenarto, tapi air
mata masih mengalir di matanya.
“Ya
sudah kek saya pamit dulu, lagi pula ini sudah hampir maghrib, tapi kapan-
kapan ingin mendengar atau ingin tahu kelanjutan serita yang tadi, ya, kek dan
terima kasih akan singkong rebusnya,kek .”Aku langsung pamit pada kakek sambil
mencium kedua tangan Kakek Soenarto.
“Ya,
hati-hati put. Tumben kamu bilang terima kasih atas singkong rebus, biasanya
kan langsung pulang.”Kakek Soenarto membalas pembicaraanku.Walau suara yang
dilantunkan beliau agar sesak karena tadi beliau menangis.
“Ya
sudah aku langsung balik kek Assalamualaikum.”Aku langsung pulang kerumah.
No comments:
Post a Comment